Total Tayangan Halaman

Selamat Datang Bagi Semua

Blog ini berisi konten-konten yang menarik dari berbagai sumber, yang mungkin bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian..

Minggu, 24 Juli 2011

Misteri Kura-kura Selamat dari 'Kiamat'

Bukan karena cangkangnya yang keras. Tapi, fakta bahwa mereka tidak serakah.

Kura-kura bertahan, Dinosaurus tidak (Yale Peabody Museum)

VIVAnews -- Dinosaurus mungkin pernah menjadi penguasa dunia dengan badan besar, cakar tajam, dan giginya yang mengerikan. Namun, saat mereka akhirnya punah dari muka Bumi, kura-kura Boremys yang sederhana justru selamat dari serangan meteorit yang menghantam Bumi 65 juta tahun lalu.

Buktinya adalah sebuah fosil yang ditemukan oleh palaeontolog Amerika Serikat di formasi batuan di North Dakota dan Montana menjadi bukti. Fosil tersebut diperkirakan milik mahluk yang hidup di periode pasca serangan meteor: Kura-kura air.

Apa rahasianya Kura-kura bisa bertahan hidup? Menurut pada ilmuwan, itu bukan karena cangkangnya yang keras. Tapi, fakta bahwa mereka tidak serakah.

Metabolisme mereka yang lamban menjadi kunci bertahan hidup di periode pasca serangan meteor. Di mana hanya sedikit makanan yang tersisa. Mereka juga terlindungi oleh air, yang jadi satu dari dua habitat mereka.

"Kura-kura adalah hewan yang tangguh, mereka mempu bertahan di masa-masa sulit," kata Tyler Lyson dari Yale University kepada LiveScience. Selain itu, "hewan yang hidup di air terlindungi dari apapun yang bisa membunuh tanaman darat dan Dinosaurus."

Kebiasaan kura-kura juga jadi kunci penting yang menyelamatkan. Saat kondisi dingin, kura-kura akan berhibernasi. Namun, ketika sangat panas atau kering, kura-kura air akan mengubur dirinya di lumpur -- menunggu kondisi normal. Ini yang mungkin mereka lakukan saat periode kemusnahan Dinosaurus.
Meteor penyebab mass extinction, fenomena musnahnya dinosaurus.

Untuk diketahui, meteorit yang memusnahkan Dinosaurus memiliki lebar antara enam sampai sembilan mil, yang menghantam Semenanjung Yukatan, di selatan Meksiko. Tubrukan itu melepaskan sekitar 100 juta megaton energi. Masa itulah yang kemudian dikenal sebagai K-T Boundary -- periode kemusnahan massal mahluk hidup.

Para ilmuwan menemukan binatang-binatang tang selamat dari 'kiamat' itu dengan cara mencarinya di antara bebatuan yang memiliki keunikan geologis.

Kala itu, hampir seluruh hewan darat tersapu bersih, musnah. Termasuk jenis penyu. Namun, Kura-kura Boremys -- khususnya famili Baenid luput. "Hewan kecil yang memiliki metabolisme lambat dan hidup di air, mereka bertahan dengan baik di K-T Boundary," tambah Lyson. "Di dalam air, sebelum dan setelah tubrukan meteor, semua berlangsung seperti biasa."

Namun, Kura-kura Boremys pun akhirnya menyerah pada alam dan waktu. Mereka akhirnya punah sekitar 40 juta tahun lalu -- setelah sempat hidup sekitar 85 juta tahun di Bumi.

Para ilmuwan menduga, hewan tersebut punah karena dimangsa predator. Salah satu alasannya, mereka tak bisa menyembunyikan kepalanya di cangkang -- kemampuan yang dimiliki Kura-kura modern. (Daily Mail, umi)

Kurangi Karbon, Australia Bantai Unta Lagi

Unta-unta liar ini dianggap sebagai biang kerok tingginya emisi karbon Australia

Unta (AP Photo/Khalid Tanveer)

VIVAnews - Pemerintah Australia sedang mempertimbangkan cara untuk menurunkan emisi gas karbon di negaranya. Salah satunya dengan membunuh unta-unta liar secara masal.
"Kami bangsa inovator dan kami menemukan solusi terhadap tantangan kami. Ini hanya contoh klasik," kata direktur manajer karbon Australia Bagian Barat Laut sebagaimana dikutip Australian Associated Press.
Di Australia sendiri, populasi unta liar diperkirakan berjumlah sekitar 1,2 juta. Populasi unta itu tumbuh 10 persen setiap tahun dan menjadi dua kali lipat setiap sembilan tahun.

Pertimbangan untuk membantai unta ini datang dari para ahli lingkungan negeri kanguru itu. Para ahli lingkungan Australia sendiri telah mengkampanyekan usulan pembunuhan masal unta ini selama bertahun-tahun sebagai solusi mengurangi efek gas rumah kaca.

Binatang padang pasir itu dipandang sebagai salah satu biang kerok tingginya emisi karbon di Australia, karena menghasilkan banyak gas metan dan memakan terlalu banyak tumbuhan.

Seekor unta diperkirakan menghasilkan 100 pound gas metan per tahun atau  setara dengan 1,1 ton karbon dioksida (CO2) sebagai gas rumah kaca. Jumlah ini sama dengan satu per enam jumlah CO2 yang dihasilkan oleh mobil-mobil Amerika Serikat.

Sementara itu, parlemen Australia juga sedang mempertimbangkan cara lain untuk mengurangi gas rumah kaca. Membunuh unta-unta ini hanyalah salah satu pilihan. Dua pilihan lainnya adalah mengekstrak gas metan dari tempat pembuangan sampah. Selain itu, mengubah cara Suku Aborigin yang mengelola padang rumput dengan cara membakar adalah opsi ketiga.

Sebuah insentif ekonomi akan diberikan kepada para petani dan pemilik lahan yang membantu menurunkan polusi karbon. Intensif itu diberikan kepada para petani dan pemilik lahan jika mengurangi karbon, seperti penanaman pohon dan merubah manajemen pengolahan lahan sehingga tidak menghasilkan gas metan.

Pemerintah Australia juga akan membentuk sebuah tim yang akan memutuskan solusi mana yang akan diambil pada akhir tahun ini. Apakah cara pembunuhan unta atau opsi lainnya.

Sebelumnya, Australia juga pernah melakukan pembunuhan massal terhadap unta-unta liar. Pembunuhan masal itu dilakukan setelah terjadi over populasi unta di sana. Sehingga, unta-unta itu memasuki perkampungan dan merusak pertanian masyarakat.

Kehidupan Laut di Ambang Kepunahan Massal

Kepunahan massal sebelumnya terjadi pada 65 juta tahun lalu.

Kepunahan massal sebelumnya terjadi pada 65 juta tahun lalu. Namun ketika itu penyebabnya adalah asteroid yang menghantam Bumi. (euphoria-magazine.com)

VIVAnews - Kehidupan di laut berada dalam risiko akan kepunahan massal terbesar dalam jutaaan tahun terakhir akibat berbagai ancaman yang ditimbulkan manusia. Ancaman tersebut antara lain adalah penangkapan ikan secara berlebihan, perubahan iklim, dan limbah yang mengalir ke laut.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh International Programme on the State of the Ocean (IPSO), kita mulai kehabisan waktu untuk mengatasi bahaya misalnya hancurnya kehidupan karang atau penyebaran “zona mati” atau kawasan rendah oksigen.

“Dalam satu generasi saja, kita kini menghadapi kehilangan sejumlah spesies bahkan seluruh ekosistem laut seperti terumbu karang,” sebut penelitian yang dilakukan oleh 27 pakar yang akan mempresentasikan hasil penelitian mereka di PBB.

Dalam laporannya, para peneliti menyebutkan, kecuali ada tindakan yang diambil saat ini juga, konsekuensi dari aktivitas manusia berisiko tinggi menyebabkan berbagai kombinasi efek dari perubahan iklim, eksploitasi berlebihan dan polusi. “Hilangnya habitat merupakan agenda pemusnahan massal yang segera terjadi di laut,” sebut laporan itu.

Dikutip dari News Daily, 24 Juni 2011, pada laporan itu para ilmuwan mencatat, dalam 600 juta tahun terakhir terdapat 5 kejadian pemusnahan massal di Bumi. Yang terakhir terjadi adalah ketika asteroid menghantam planet ini pada 65 juta tahun lalu dan menyebabkan musnahnya dinosaurus.

Sebelumnya, sekitar 250 juta tahun lalu, asteroid juga diperkirakan pernah menghantam dan menyebabkan pemusnahan massal terbesar yang pernah terjadi di Bumi.

“Temuan bahwa akan musnahnya kehidupan laut sangat mengejutkan,” kata Alex Rogers, Scientific Director IPSO yang menuliskan kesimpulan. “Ikan merupakan sumber protein utama bagi seperlima populasi dunia dan laut mendaur oksigen serta membantu menyerap karbon dioksida, gas rumah kaca utama yang ditimbulkan oleh umat manusia,” ucapnya. (eh)

'Kota Misterius' Muncul di Atas Sungai China

Banyak spekulasi soal kemunculan kota misterius itu.

Kota Misterius di China (YouTube)

VIVAnews - Pemandangan menakjubkan muncul di China pada awal bulan ini. Sebuah kota misterius muncul di atas Sungai Xin'an.

Kota misterius itu muncul di langit Cina Timur setelah hujan deras. Saat itu, kondisi lembab menutupi Sungai Xin'an.

Kota misterius itu terlihat seperti pemandangan kota lainnya. Tampak gedung pencakar langit, beberapa gunung dan sedikit pohon-pohon.

Pemandangan itu terlihat oleh warga di Kota Huanshan. Muncul beragam spekulasi dari mereka, diantaranya menganggap tempat itu merupakan 'pusara' dari 'peradaban yang hilang'.

"Ini benar-benar luar biasa, terlihat seperti sebuah adegan di film, di negeri dongeng," kata seorang warga kepada saluran berita Inggris, ITN sebagaimana dimuat laman foxnews.com, 27 Juni 2011.

Namun, semua itu ternyata tak nyata alias fatamorgana. Para ilmuwan telah membatalkan teori 'pusara' dan 'peradaban yang hilang'.

Para ahli percaya pemandangan itu mungkin hanya sebuah fatamorgana yang disebabkan ketika kelembaban di udara yang menjadi lebih hangat dari suhu air di bawahnya.

Ketika sinar matahari melewati udara dingin ke udara hangat, cahaya itu dibiaskan atau belokan. Sehingga menciptakan sebuah bayangan di udara yang terlihat mirip dengan sebuah bayangan di air.

Refleksi itu merupakan pemandangan umum bagi banyak wisatawan yang berkunjung di daerah basah. (umi)

2022, Jerman Tutup Seluruh Pembangkit Nuklir

Delapan PLTN ditutup permanen. Sementara 9 lainnya ditutup bertahap hingga akhir 2022.


Dari 17 reaktor nuklir yang beroperasi di negeri tersebut, sebanyak 8 di antaranya langsung ditutup secara permanen. Sementara 9 reaktor lainnya akan ditutup secara bertahap hingga akhir 2022. (AP Photo/Michael Probst)

VIVAnews - Parlemen Jerman menyetujui rencana untuk menutup pembangkit listrik tenaga nuklir di negeri tersebut pada tahun 2022 mendatang. Langkah ini membuat motor penggerak ekonomi Eropa itu fokus ke ambisi mereka untuk menggunakan energi terbarukan.

Rencana penutupan PLTN itu terjadi setelah kasus kebocoran reaktor nuklir akibat gempa dan tsunami Jepang. Dari pemungutan suara, 513 anggota parlemen setuju penutupan, 79 tidak setuju, dan 8 abstain.

Dari 17 reaktor nuklir yang beroperasi di negeri tersebut, sebanyak 8 di antaranya langsung ditutup secara permanen. Sementara 9 reaktor lainnya akan ditutup secara bertahap hingga akhir 2022.

Pada tahun 2020, Jerman berencana untuk melipatgandakan energi yang didapat dari air, angin, matahari, dan biogas setidaknya hingga 35 persen kebutuhan energi. Sampai tahun ini sendiri, sumber energi nuklir memasok sekitar 25 persen dari kebutuhan listrik nasional.

"Orang bertanya-tanya, apakah Jerman mampu melakukan hal ini? Pasalnya, ini merupakan kali pertama salah satu negara industri utama menyatakan siap melakukan revolusi teknologi dan ekonomi seperti ini," kata Norbert Roettgen, Menteri Lingkungan Jerman, seperti dikutip dari AP, 1 Juli 2011.

Roettgen menyebutkan, pesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Jerman siap untuk itu. "Ini akan membawa dampak yang baik bagi Jerman," ucapnya.

Pemerintah sendiri belum merinci lebih detail seputar rencana mereka untuk beralih ke sumber energi terbarukan. "Tentu itu akan memakan biaya besar. Namun itu tidak akan melampaui beban yang harus kita tanggung," ucap Roettgen. (sj)

Pekan Lalu Suhu Bumi 48 Derajat Celsius

Di Mekkah, suhu rata-rata Mei mencapai 34,4 derajat Celsius. Adapun Juni di 36,2 derajat.

Suhu tertinggi Bumi pekan lalu terjadi di Mekkah. Sebagai gambaran, suhu rata-rata bulan Mei mencapai 34,4 derajat Celsius. Adapun bulan Juni di kisaran 36,2 derajat. (saharamet.com)

VIVAnews - United Nations World Meteorological Organization (UNWMO), lembaga khusus PBB yang bertugas untuk memantau cuaca dan iklim, melaporkan pada pekan lalu suhu terpanas di Bumi sempat mencapai 118,4 derajat Fahrenheit atau 48 derajat Celsius.

Adapun di kawasan terdingin, suhu juga mencapai 118,4 derajat Fahrenheit di bawah nol, atau sekitar minus 76,1 derajat Celsius.

Sebagai informasi, UNWMO, yang membuat standarisasi untuk pemantauan cuaca dan menyediakan jaringan telekomunikasi global untuk distribusi data, mengumpulkan data lebih dari 10 ribu stasiun pengamat cuaca di seluruh dunia.

Dikutip dari Earth Week, 4 Juli 2011, temperatur tertinggi terjadi di Mekkah, Arab Saudi. Adapun suhu terdingin yang tercatat, terjadi di kawasan stasiun penelitian Vostok Antarctic milik Russia di Kutub Selatan.

Meski suhu di kedua tempat tersebut tercatat cukup ekstrim, suhu terpanas dan terdingin tersebut belum memecahkan rekor temperatur tertinggi dan terendah sebelumnya.

Menurut data yang dirilis oleh World Meteorological Organization dan dirangkum oleh Arizona State University, suhu terpanas yang pernah terjadi di Bumi adalah pada 13 September 1922 di El Azizia, Libya. Ketika itu suhu di kawasan yang berada pada ketinggain 112 meter di atas permukaan laut itu tercatat mencapai 136 derajat fahrenheit atau 57,8 derajat celcius.

Suhu terdingin yang pernah melanda kawasan di Bumi sendiri terjadi pada 21 Juli 1983 di kawasan Vostok, Antartika. Suhu kawasan yang berada di ketinggian 3420 meter di atas permukaan laut itu sempat mencapai minus 128,5 derajat fahrenheit atau minus 89,2 derajat celcius.

Di Mekkah sendiri, menurut catatan National Climatic Data Center, pada bulan Juni lalu, suhu rata-ratanya mencapai sekitar 36,2 derajat Celsius. Adapun pada bulan Mei, suhu rata-rata Mekkah ada di kisaran 34,4 derajat Celsius. (ren)