Total Tayangan Halaman

Selamat Datang Bagi Semua

Blog ini berisi konten-konten yang menarik dari berbagai sumber, yang mungkin bisa bermanfaat bagi para pembaca sekalian..

Senin, 09 September 2013

Apakah Hitler mati di Indonesia? Analisa Foto dan Kesimpulan

Hitler tewas pada tanggal 30 April 1945 di sebuah bunker di Jerman. Begitulah kisah resmi yang dipercayai oleh para sejarawan. Namun di Indonesia beredar sebuah rumor yang menyatakan bahwa Hitler tidak tewas pada tahun 1945. Ia berhasil melarikan diri ke Indonesia, menjadi dokter di Sumbawa dan meninggal di Surabaya pada tahun 1970. Benarkah demikian adanya?
Beberapa tahun yang lalu, saya sering sekali menerima email yang menanyakan soal kebenaran kisah ini. Pada waktu itu, tentu saja saya tidak bisa menjawabnya tanpa adanya data yang kuat. Jika ditanya demikian oleh para pembaca enigma, saya hanya mengatakan: "Kalau ada foto Dr.Poch yang disebut sebagai Hitler, maka saya akan memposting soal ini."
Itu beberapa tahun yang lalu. 

Beberapa waktu yang lalu, sudah agak lama, ketika saya sedang pergi ke toko buku, saya melihat sebuah buku yang ditulis oleh KGPH Soeryo Goeritno Msc. Judulnya: Rahasia yang terkuak - Hitler mati di Indonesia. 
Ketika saya melihat isinya sekilas, saya melihat foto Dr.Poch (lengkapnya Dr.Georg Anton Poch). Jadi sekarang saya akan menepati janji yang pernah saya ucapkan.
Mungkin sebagian besar dari kalian sudah pernah membaca kisah bagaimana Dr. Sosrohusodo berjumpa dengan seorang dokter bernama Poch yang kemudian diyakininya sebagai Hitler. Namun bagi yang belum pernah mendengarnya, berikut adalah kutipan dari Vivanews:
"Cerita ini berawal dari sebuat artikel di Harian Pikiran Rakyat pada tahun 1983. Penulisnya bernama dr Sosrohusodo -- dokter lulusan Universitas Indonesia yang pernah bertugas di kapal yang dijadikan rumah sakit bernama 'Hope' di Sumbawa Besar.
Dia menceritakan pengalamannya bertemu dengan dokter tua asal Jerman bernama Poch di Pulau Sumbawa Besar tahun 1960. Poch adalah pimpinan sebuah rumah sakit terbesar di pulau tersebut. Klaim yang diajukan dr Sosrohusodo jadi polemik. Dia mengatakan dokter tua asal Jerman yang dia temui dan ajak bicara adalah Hitler di masa tuanya. Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal --- Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan.
Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul. Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya -- yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun.
Menurut Sosrohusodo, dokter asal Jerman yang dia temui sangat misterius. Dia tidak punya lisensi untuk jadi dokter, bahkan dia sama sekali tak punya keahlian tentang kesehatan. Keyakinan Sosro, bahwa dia bertemu Hitler dan Eva Braun, membuatnya makin tertarik membaca buku dan artikel soal Hitler. Kata dia, setiap melihat foto Hitler di masa jayanya, dia makin yakin bahwa Poch, dokter tua asal Jerman yang dia temui adalah Hitler.
Keyakinannya bertambah saat seorang keponakannya, pada 1980, memberinya buku biografi Adolf Hitler karangan Heinz Linge yang diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia oleh Try Budi Satria. Dalam halaman 59 artikel itu diceritakan kondisi fisik Hitler di masa tua. "Sejumlah orang Jerman tahu Hitler menyeret kakinya saat berjalan, penglihatannya makin kabur, rambutnya tak lagi tumbuh. Kala perang makin berkecamuk dan Jerman terus dipukul kalah, Hitler menderita kelainan syaraf."
Saat membaca buku tersebut, Sosro makin yakin, sebab kondisi fisik yang sama dia temukan pada diri Poch. Dalam buku tersebut juga diceritakan tangan kiri Hitler selalu bergetar sejak pertempuran Stalingrad (1942 -1943) -- yang merupakan pukulan dahsyat bagi tentara Jerman. Sosro mengaku masih ingat beberapa percakapannya dengan Poch yang diduga adalah Hitler. Poch selalu memuji-muji Hitler. Dia juga mengatakan tak ada pembunuhan di Auschwitz, kamp konsentrasi yang diyakini sebagai lokasi pembantaian orang-orang Yahudi. "Saat saya bertanya soal kematian Hitler, dia mengatakan tak tahu.
Sebab, saat itu situasi di Berlin dalam keadaan chaos. Semua orang berusaha menyelamatkan diri masing-masing," kata Sosrohusodo, seperti dimuat laman Militariana. Sosro mengaku pernah memeriksa tangan kiri Poch yang selalu bergetar. Saat menanyakan kapan gejala ini mulai terjadi, Poch lalu bertanya pada istrinya yang lalu menjawab, "ini terjadi ketika Jerman kalah di pertempuran dekat Moskow. Saat itu Goebbels mengatakan padamu bahwa kau memukuli meja berkali-kali."
Goebbels yang disebut istri Poch diduga adalah Joseph Goebbe, menteri propaganda Jerman yang dikenal loyal dengan Hilter. Kata Sosro, istri Poch, yang diduga Eva Braun, beberapa kali memanggil suaminya 'Dolf', yang diduga kependekan dari Adolf Hitler. Usai membaca artikel-artikel tersebut, Sosro mengaku menghubungi Sumbawa Besar. Dari sana, dia memperoleh informasi dr Poch meninggal di Surabaya.
Poch meninggal pada 15 Januari 1970 pukul 19.30 di Rumah Sakit Karang Menjangan Surabaya karena serangan jantung, dalam usia 81 tahun. Dia dimakamkan sehari kemudian di daerah Ngagel. Sementara istrinya yang asal Jerman pulang ke tanah airnya, Poch diketahui menikah lagi dengan wanita Sunda asal Bandung berinisial S. Dia diketahui tinggal di Babakan Ciamis. Setelah menutup mulut, S akhirnya memberi semua dokumen milik suaminya pada Sosro, termasuk foto perkawinan, surat izin mengemudi lengkap dengan sidik jari Poch.
Ada juga buku catatatan berisi nama-nama orang Jerman yang tinggal di beberapa negara, seperti Argentina, Italia, Pakistan, Afrika Selatan, dan Tibet. Juga beberapa tulisan tangan steno dalan bahasa Jerman Buku catatan Poch berisi dua kode, J.R. KepaD No.35637 dan 35638, kode simbol lelaki dan perempuan. "Ada kemungkinan buku catatatan dimiliki dua orang, Hitler dan Eva Braun," kata Sosro.
Ada juga tulisan yang diduga rute pelarian Hitler -- yakni B (Berlin), S (Salzburg), G (Graz), J (Jugoslavia), B (Belgrade), S (Sarajevo), R (Rome), sebelum dia ke Sumbawa Besar. Istri kedua Poch, S juga menceritakan suatu hari dia melihat suaminya mencukur kumis dengan gaya mirip Hitler. Ketika dia bertanya, suaminya menjawab, "jangan bilang siapa-siapa." Sosro mengaku tak ada maksud tersembunyi di balik pengakuannya. "Saya hanya ingin menunjukan Hitler meninggal di Indonesia," kata dia. Hingga saat ini apakah Hitler tewas di bunker, di Argentina, Brazil, atau Indonesia, belum bisa dipastikan. Kisah akhir hayat 'sang Fuhrer' terus jadi misteri."
Pada saat itu, teori Dr.Sosrohusodo mendapat perhatian cukup luas di media lokal. Ini mungkin menginspirasi Peter Levenda, penulis Amerika Serikat, untuk menulis sebuah buku mengenai teori ini pada tahun 2012 yang secara efektif membuat klaim Dr.Sosrohusodo menjadi cukup terkenal di barat.
Ketika saya menjelajah internet untuk mencari publikasi media mengenai hal ini, agak mengherankan karena kebanyakan media tidak mencoba untuk mengelaborasinya lebih mendalam. Inilah salah satu sebab yang membuat saya memutuskan untuk memposting berita yang sudah cukup basi ini.
Baiklah, pertama, saya tahu, akan sangat sia-sia jika saya mencoba untuk mendebat argumen Dr.Sosrohusodo karena hal itu hanya akan menjadi debat teoritis yang jelas tidak akan ada ujungnya. Saya sendiri tidak pernah mewawancarai Dr.Sosrohusodo, jadi saya juga tidak bisa memahami lebih dalam dasar yang digunakannya untuk menarik kesimpulan. Namun, jika saya menggunakan reportase media saja, maka bukti yang diajukan Dr. Sosrohusodo saya anggap sangat lemah. 

Misalnya kutipan mengenai argumen Dr.Sosrohusodo.
"Bukti-bukti yang diajukan Sosrohusodo, adalah bahwa dokter tersebut tak bisa berjalan normal --- Dia selalu menyeret kaki kirinya ketika berjalan. Kemudian, tangannya, kata Sosrohusodo, tangan kiri dokter Jerman itu selalu bergetar. Dia juga punya kumis vertikal mirip Charlie Chaplin, dan kepalanya gundul. Kondisi ini diyakini mirip dengan gambaran Hilter di masa tuanya -- yang ditemukan di sejumlah buku biografi sang Fuhrer. Saat bertemu dengannya di tahun 1960, orang yang diduga Hitler berusia 71 tahun." 
(Notes: Hitler lahir tahun 1889 sehingga pada tahun 1960, ia memang berusia 71 tahun).
Bayangkan, kita bertemu dengan seorang Jerman tua, pincang,  tangan lemah, memiliki kumis seperti Charlie Chaplin, kepala gundul dan memiliki umur yang sama dengan Hitler. Lalu kita mengambil kesimpulan kalau orang ini pastilah Hitler. 

Jelas cara pengambilan kesimpulan seperti ini adalah sebuah fallacy.
Tetapi anggaplah kalau reportase media tidak secara lengkap menayangkan argumen Dr Sosrohusodo dan ternyata memang ia mengambil kesimpulan berdasar pengakuan Dr.Poch beserta bukti-bukti lainnya, maka dengan demikian, kita boleh beranggapan bahwa argumen Dr Sosrohusodo sudah tepat. 

Kalau begitu bagaimana kita bisa menilai kebenaran klaim ini?
Well, kita memiliki foto Dr.Poch. Cara yang paling gampang adalah membandingkan foto Hitler dengan foto Dr.Poch. Dan jika kita beruntung, kita bisa mematahkan atau membenarkan klaim Dr.Sosrohusodo.
Untuk awalnya, ini dia foto Dr.Poch yang diklaim sebagai Hitler bersama Istrinya yang berasal dari Indonesia.
Sedangkan foto berikut adalah Hitler sendiri.
Setelah melihat foto tersebut, mungkin kalian akan segera yakin kalau Dr.Poch bukanlah Hitler karena postur dan wajah yang tidak mirip. Satu-satunya kesamaan mungkin hanya kumisnya. Tapi tunggu dulu.. postur tubuh dan wajah seseorang bisa berubah seiring pertambahan usia atau seiring berkurang dan bertambahnya berat badan. Argumen seperti itu tidak bisa dipakai.
Kalau begitu argumen apa yang akan kita pakai?
Seperti yang saya katakan di atas, jika kita beruntung, maka kita bisa mengambil kesimpulan yang konkrit dari perbandingan foto ini. Dan saya rasa, kita beruntung kali ini. 
Pada awalnya, saya begitu takjub dengan kesamaan wajah antara Dr.Poch dengan Hitler sehingga saya hampir yakin kalau keduanya adalah orang yang sama. Jika kalian tidak percaya, lihatlah foto Hitler berikut ketika ia masih muda dan kurus, lalu bandingkan dengan foto Dr.Poch.
Hitler adalah pria di sebelah kanan yang berkumis tebal. Bukankah wajahnya sangat mirip dengan Dr.Poch?
Namun kemudian, saya menyadari satu hal. Ada perbedaan mendasar yang kemudian membuat saya meragukan kalau keduanya adalah orang yang sama.
Bentuk tubuh dan bahkan bentuk wajah bisa berubah jika kita bertambah tua, bertambah kurus atau bertambah gemuk, Tapi ada satu yang tidak akan berubah.Yaitu Lobule telinga atau Earlobe.
Dr.Poch dan Hitler memiliki Earlobe yang berbeda. 
Walaupun manusia memiliki banyak rupa daun telinga, namun untuk Earlobe, biasanya para ahli anatomi hanya membaginya menjadi dua bagian besar. Yaitu Free Earlobe dan Attached Earlobe. 
Hitler memiliki Free Earlobe sedangkan Dr.Poch memiliki Attached Earlobe. 

Attached Earlobe artinya ujung daun telinga langsung menyatu dengan sisi wajah kita. Sedangkan Free Earlobe, ujung daun telinga melengkung, menyisakan satu bagian yang "bebas".
Sekarang bandingkan Earlobe Hitler dan Dr.Poch.
Ini perbandingan satu lagi yang lebih jelas karena Dr.Poch terpotret dari samping. 
Apakah kalian bisa melihat perbedaannya sekarang?
Bahkan kalian bisa melihat kalau bentuk daun telinga kedua orang tersebut berbeda. Hal ini pun terlihat jelas ketika kita membandingkan foto Poch dengan Hitler yang masih kurus.

Artinya cuma satu. Dr.Poch bukan Hitler. 
Lalu, mungkin di antara kalian ada yang bertanya: "Apakah earlobe dapat berubah seiring bertambahnya usia?"
Jawabannya bisa. Namun justru dalam kasus Hitler Poch ini malah memperkuat dugaan kalau keduanya adalah orang berbeda.
Perubahan pada earlobe terjadi ketika kita bertambah tua. Ketika usia kita bertambah, terjadi pengurangan produksi kolagen di dalam tubuh sehingga elastisitas kulit berkurang. Akibatnya earlobe manusia akan menjadi bertambah kendur. Namun tidak pernah ada kasus Earlobe seseorang berubah dari Attached menjadi Free atau sebaliknya.
Jika Hitler bertambah tua, maka Free Earlobe yang dimilikinya JUSTRU akan bertambah kendur sehingga lengkungannya terlihat semakin jelas. Hal ini tidak bisa kita temukan pada telinga Dr.Poch.  
Kalian bisa melihat perubahan kekenduran earlobe pada aktor Man in Black, Tommy Lee Jones berikut ini. Bagian yang "bebas" dari earlobenya terlihat semakin "besar".
Berikut foto Obama sewaktu kecil dan dewasa. Ia memiliki Free Earlobe dan tidak berubah ketika ia dewasa.
Atau Jimmy Carter, mantan presiden Amerika Serikat. Ia memiliki memiliki Attached earlobe dan tetap demikian adanya ketika ia berusia lanjut.
 
Jadi, dengan metode yang sederhana ini, kita bisa menemukan sebuah lubang besar dalam klaim Dr.Sosrohusodo. 

Nah, sekarang, bagian terpenting dari postingan ini yaitu apa yang telah ditanyakan para pembaca enigma bertahun-tahun lampau, yaitu: "Bro enigma, apakah Hitler benar-benar mati di Indonesia?"
Jawabannya: "Saya tidak tahu. Tapi yang saya pastikan adalah Dr.Poch bukan Hitler."

Sumber tambahan:

Objek apakah yang telah menabrak pesawat Boeing 757 Air China? Beberapa kemungkinan

Pada tanggal 4 Juni 2013, sebuah pesawat Boeing 757-200 dari Air China baru mengudara sekitar 20 menit (sumber lain mengatakan 10 menit) dari bandara Chengdu dengan tujuan Guangzhou. Pada ketinggian 8.000 meter (28.000 kaki), tiba-tiba terdengar suara keras. Sang pilot yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi segera menghubungi menara pengawas udara untuk meminta ijin kembali ke bandara Chengdu. Ketika sampai di darat barulah terlihat jika hidung pesawat raksasa tersebut telah penyok ke dalam. Apakah UFO terlibat dalam insiden ini?

Berikut adalah kondisi kerusakan yang dialami pesawat tersebut.

Sudah hampir dua minggu peristiwa ini terjadi dan sepertinya sukar bagi dunia maya untuk menganggapnya sebagai hal yang biasa. Terima kasih untuk kreativitas dan imajinasi para blogger dan awak media, peristiwa ini menjadi subjek dari diskusi yang berkepanjangan, termasuk oleh kalian, para pembaca blog enigma.

Ketika peristiwa ini terjadi, saya melihat sebuah fenomena lain, yaitu ketergantungan media, termasuk media di Indonesia, terhadap berita yang dihembuskan oleh media tertentu. Bahkan headline beritanya pun tidak dimodifikasi. Tidak bisa disalahkan, jika ada lonjakan traffic terhadap sebuah subjek, celakalah media yang tidak ikut terjun ke dalam arus tersebut.

Hidung sebuah pesawat penyok dan hampir seluruh media mengkambinghitamkan UFO. Dan mungkin yang paling bertanggungjawab dalam pemberitaan ini adalah thesun.co.uk yang memuat berita ini dengan judul: Did Chinese plane have mid-air crash with UFO?

Jika kita membaca judul ini, kita pasti akan mengharapkan sebuah isi berita seperti: 

"Sang pilot pesawat menyaksikan sebuah sinar terang menyilaukan yang diiringi oleh munculnya sebuah objek berbentuk piringan yang kemudian menyerempet hidung pesawat. Sesaat setelah itu, objek tersebut tidak terlihat lagi dan cahaya menyilaukan tersebut lenyap"

Jika beritanya seperti itu, wajar jika kata "UFO" dimunculkan dalam headline. Namun kita tidak bisa menemukan isi berita semacam itu. Dari udara hampa, thesun melakukan deduksi yang luar biasa aneh.

Sebenarnya penggunaan kata UFO tidak bisa dibilang salah. Setiap benda terbang yang tidak teridentifikasi bisa dikatakan sebagai UFO. Namun, arah pemberitaan thesun.co.uk jelas. Ini terlihat dari ilustrasi yang ditampilkan dan narasumber yang dihubungi.

Untuk kreativitas, thesun menduduki urutan pertama.

Selain memberikan ilustrasi sebuah piring terbang yang komikal, mereka juga menghubungi NIck Pope, seorang pengamat UFO yang dengan yakin segera berkata "Kasus-kasus seperti ini menunjukkan bahwa, tanpa memandang apakah seseorang mempercayai keberadaan UFO atau tidak, ada masalah keselamatan udara yang serius disini. File lembaga penerbangan dan kementerian pertahanan menunjukkan adanya banyak kasus tabrakan udara yang hampir terjadi antara UFO dan pesawat komersil"

Dengan kata lain, bagi Pope, jelas piring terbang dari planet lain bertanggung jawab atas insiden ini.

Tapi, jika mau jujur, seharusnya media menyadari bahwa peristiwa semacam ini bukan sesuatu yang asing dalam dunia penerbangan.

Dibanding mengambil lompatan deduksi yang luar biasa aneh dengan menuduh sebuah piring terbang, sebaiknya saya memberikan kepada kalian beberapa kemungkinan alternatif atas apa yang terjadi pada pesawat Air China 757-200.

Lalu bagaimana dengan piring terbangnya?

Kalian bisa melupakan itu.

Jika sebuah piring terbang logam berukuran besar dan berkecepatan tinggi menabrak hidung pesawat seperti itu, apakah kita mengira pesawat 757 tersebut masih bisa kembali dengan selamat dan hanya mengalami penyok?

Jadi, sebagai alternatif, saya akan memberikan tiga kemungkinan dan referensi. Saya tidak bisa memastikan apa yang menabrak pesawat tersebut, namun saya tahu pasti kalau peristiwa tersebut bukan sesuatu yang aneh.

Kemungkinan pertama - Hantaman bongkahan es
Peristiwa semacam ini pernah terjadi, walaupun cukup jarang. Saat terjadinya badai, bongkahan-bongkahan es bisa menghantam pesawat yang melewatinya. Bongkahan-bongkahan es yang keras dengan mudah merusak permukaan pesawat.
Namun, bongkahan es ini biasanya muncul dalam jumlah banyak sehingga kerusakan yang ditimbulkannya akan lebih parah dan luas, tidak terbatas pada ujung hidung. Permukaan es yang keras akan membuat cacat permukaan pesawat dan membuat catnya terkelupas, seperti yang terlihat pada pesawat berikut ini.
Pada sebagian kasus, hantaman es ini juga membuat kaca kokpit retak.
Jadi, apa yang menimpa pesawat Air China kemungkinan bukan diakibatkan oleh bongkahan es.

Kalian bisa melihat contoh kecelakaan akibat bongkahan es pada link berita BBC berikut ini: Huge hailstones cause flight mayhem.

Kemungkinan kedua - Kerusakan struktur internal pesawat 
Hidung pesawat atau yang disebut radome (Radar Dome) memiliki struktur internal yang unik. Ia tidak padat seperti bagian tubuh pesawat lainnya karena fungsinya terutama untuk melindungi radar pesawat. Rongga yang dimilikinya memungkinkannya untuk penyok ke dalam seperti yang dialami oleh pesawat Air China tersebut.

Jika terdapat cacat pada Radome ini, maka tekanan udara yang kuat bisa membuatnya penyok. Cacat yang terjadi bisa diakibatkan oleh sambaran petir atau tabrakan burung pada hari-hari sebelumnya. Seorang pilot pernah bersaksi bahwa hidung pesawatnya penyok hanya karena sepotong paruh burung yang tertinggal di dalam radome pada tabrakan yang terjadi hari sebelumnya.

Salah satu kasus kerusakan internal yang menyebabkan penyok seperti China Air adalah kasus yang dialami oleh Northwest Airlines pada tanggal 7 Juli 2008.

Awalnya, kerusakan ini dicurigai sebagai tabrakan dengan burung. Namun setelah otoritas keselamatan penerbangan Amerika, FAA, menyelidikinya, mereka menemukan penyebabnya karena kerusakan internal.

Jadi, bisa saja itu yang dialami oleh pesawat Air China. Namun masalahnya, jika kita melihat pada hidung pesawat tersebut, terlihat adanya cacat bekas tabrakan di kiri bawah.

Kita memang tidak tahu kapan bekas hitam itu muncul. Bisa saja beberapa hari sebelumnya dan pesawat tersebut belum dicat ulang. Jika demikian kondisinya, maka penyok akibat tekanan udara menjadi penyebab yang mungkin sekali.

Tapi, jika cacat tersebut muncul saat terjadinya penyok, maka penjelasan ini menjadi mentah.
Kemungkinan ketiga - Tabrakan dengan burung
Pihak Air China sendiri memberikan jawaban ini sebagai penjelasan resmi. Namun, beberapa pihak meragukannya karena tiga faktor, yaitu ketinggian pesawat saat terjadi tabrakan (8.000 meter) yang terlalu tinggi untuk seekor burung. Lalu kondisi permukaan hidung pesawat yang bersih dari darah dan terakhir adalah besarnya penyok.
Menurut saya pribadi, jawaban ini adalah jawaban standar yang sangat mungkin. 
Akan saya berikan alasannya.
Keberatan Pertama, apakah ada burung yang bisa terbang pada ketinggian 8.000 meter atau 28.000 kaki?

Jawabannya ada. 

Gambar di bawah ini diambil dari jeb.biologists.org.
Ada beberapa jenis burung yang bisa terbang melebihi 8.000 meter. Burung Bar-headed goose yang bisa terbang hingga ketinggian 9.000 meter adalah burung yang berasal dari Asia dan ia bisa terbang sampai ke puncak Himalaya dalam tempo 8 jam.
Sebuah pesawat Jet yang terbang pada ketinggian 8.000 meter atau 30.000 kaki akan dengan mudah menjumpai burung ini di udara.
Saya tidak bisa memastikan bahwa burung ini yang menabrak pesawat Boeing 757 Air China, namun jelas ini adalah salah satu kemungkinan.
Jadi, keberatan sebagian orang atas tabrakan burung yang berhubungan dengan ketinggian dapat dijawab dengan mudah.
Sekarang keberatan kedua.
Jika tabrakan burung, dimanakah darahnya?
Benar, jika seekor atau sekelompok burung menabrak pesawat, kemungkinan besar memang akan meninggalkan bekas darah, bahkan seringkali pemandangan yang terlihat sangat brutal, seperti yang terlihat di bawah ini.
Tabrakan burung dengan pesawat United Airlines.
Atau tabrakan burung dengan pesawat Delta Airlines berikut ini.
Jelas sekali terlihat adanya bercak darah.
Namun, kondisi hidung pesawat yang diakibatkan oleh tabrakan burung tidak selalu seperti itu. Misalnya tabrakan antara pesawat Garuda Boeing 737-800 Jakarta-Palangkaraya dengan seekor burung elang berikut ini. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 21 April 2012.
Pesawat tersebut menabrak seekor burung elang seberat satu kilogram dan menimbulkan penyok yang hampir sama persis dengan pesawat Air China 757 dan hanya berbeda ukuran (Perhatikan bekas penyoknya yang rapi walaupun ditabrak oleh seekor burung).
Sudut benturan mungkin menjadi faktor ada atau tidaknya darah. Sama seperti pada sebuah kecelakaan lalu lintas. Pada sebagian kasus, darah bisa terlihat pada kendaraan, sebagian lagi tidak. 
Dalam kasus Air China, bekas tabrakan mengindikasikan kalau tabrakan tersebut tidak terjadi secara frontal. Melainkan hanya menyerempet di kanan bawah hidung pesawat (Soal ini, ilustrasi piring terbang thesun cukup akurat).
Karena struktur hidung atau radome yang berongga, maka terjadilah penyok ke arah dalam seperti yang kita lihat dari fotonya.
Kemungkinan lain adalah, dalam perjalanan turun, pesawat melewati hujan sehingga bekas darah bisa terhapus.
Lalu, keberatan terakhir. 

Jika tabrakan itu diakibatkan oleh seekor burung, maka burung apakah yang bisa menyebabkan penyok sebesar itu?
Tidak dibutuhkan seekor burung sebesar kerbau untuk membuat penyok sebesar itu.
Jika saya melempar sepotong agar-agar ke kepala anda, maka anda tidak akan terbunuh. Namun jika saya melemparnya dengan kecepatan 900 km/jam, agar-agar itu akan membuat anda tewas seketika.

Kecepatan gerak objek yang menabrak akan menentukan tingkat kerusakan yang ditimbulkannya.

Pesawat Boeing 757-200 memiliki kecepatan 0,8 Mach atau sekitar 900 km/jam. Pada saat terbang dengan kecepatan tersebut, seekor burung yang memiliki ukuran seperti Bar Headed Goose bisa menyebabkan penyok sebesar itu. Namun karena tabrakan tidak terjadi secara frontal, maka pesawat tersebut tidak mengalami robek.

Jika tabrakan terjadi secara frontal, maka kemungkinan kita akan menemukan kerusakan yang sangat parah seperti contoh di bawah ini.
Pesawat ini adalah Iberia A340 yang terbang dari Madrid ke San Juan pada tanggal 13 Mei 2012. Seekor burung Nasar menghantam hidung pesawat dan masuk ke dalamnya (Bekas tabrakan relatif bersih dari darah).
Atau menyisakan sisa tabrakan yang bersimbah darah seperti contoh di bawah ini. 

Kesimpulan
Seperti yang saya katakan di awal, saya tidak bisa menyimpulkan apa yang menabrak pesawat Boeing 757 Air China. Namun saya menemukan bahwa kemungkinan tabrakan dengan burung atau kerusakan internal jauh lebih besar dibanding tabrakan dengan sebuah piring terbang.

Pesawat Air China mengalami penyok, menyisakan bekas tabrakan kecil berupa bekas guratan hitam. Ini mengindikasikan bahwa apapun yang menabrak pesawat tersebut  pastilah sebuah benda kecil dan lunak yang tidak menabraknya secara frontal.

Jadi, tabrakan dengan burung merupakan sebuah jawaban yang sangat masuk akal. Namun, jika guratan pada hidung pesawat sudah ada sebelum tabrakan, maka kerusakan internal menjadi penyebab yang paling mungkin.

Pada masa lalu, pernah terjadi peristiwa kerusakan internal atau tabrakan dengan burung yang meninggalkan bekas kerusakan yang mirip sehingga tidak mustahil hal yang sama terjadi pada Air China.

Berapa banyak kerusakan akibat tabrakan dengan piring terbang di masa lalu yang bisa kita bandingkan?  
Jadi, darimana kesimpulan piring terbang atau UFO muncul? Itu yang tidak saya mengerti.

Referensi
Chinadaily.com.cn

Crop Circle menurut Ahli Fisika Richard Taylor - Pergerakan seni yang paling berorientasi sains dalam sejarah

Crop circle, salah satu misteri terbesar dalam sejarah sains. Setelah berlangsung hampir 400 tahun, apakah kita semakin dekat dengan jawaban dari misteri ini?

Jika kita membaca berita di media mengenai crop circle, kita masih akan menemukan ketidakjelasan. Ini menunjukkan kalau media sendiri diliputi keraguan akan sifat dari fenomena ini. Ketika Bower dan Chorley mengklaim telah membuat ratusan crop circle selama 25 tahun, media menayangkan berita tersebut dengan gegap gempita dengan headline yang menyebutkan kalau misteri ini telah terpecahkan, padahal ada ribuan crop circle lain yang tidak dibuat oleh kedua orang tersebut.

Saya sendiri masih menganggap misteri ini belum terpecahkan dan sangat heran jika media berpura-pura sebaliknya, seperti artikel BBC yang memuat berita bahwa crop circle dibuat oleh Wallabie, hewan sejenis kanguru. Apakah wallabie membuat lingkaran dalam pola fraktal dan geometri?

Karena itu, menarik melihat pendapat seorang ilmuwan yang lebih objektif, dalam hal ini ahli fisika Richard Taylor, direktur dari material science institute, University of Oregon. Ia menulis pandangannya pada tulisan yang dimuat di physicsworld.com bulan Agustus 2011 (kalian perlu registrasi terlebih dahulu untuk membacanya). Tulisan Richard Taylor ini kemudian dimuat di berbagai media dan dianggap sebagai sebuah pendekatan yang paling memungkinkan dalam mencari jawaban atas misteri crop circle dimana ia mengemukakan kemungkinan penggunaaan peralatan seperti magnetron.

Karena kehebohan tulisan ini, saya akan menerjemahkan tulisannya dari physicsworld dan membiarkan kalian membacanya sendiri. Tulisan yang panjang ini akan sangat membosankan bagi sebagian orang, namun bagi yang lain, bermanfaat untuk merefresh pengetahuan kita mengenai salah satu misteri terbesar abad ini.

Berikut adalah tulisan Prof.Richard Taylor:

Suatu malam di bulan Juli 1996, saya sedang berada di lantai atas sebuah pub di kota kecil dekat Avebury di Wiltshire, sambil menikmati liburan akhir pekan di sekitar situs prehistoris di selatan Inggris. Pada tengah malam, saya terbangun oleh suara-suara yang berasal dari tiga pria yang sedang berbincang-bincang di tempat parkir mobil di bawah. Mereka sedang memegang dan mendiskusikan selembar kertas besar. 
Setelah 15 menit diskusi yang misterius, mereka naik mobil melewati jalan kecil pedesaan. Pada malam itu, 194 crop circle yang memenuhi area hingga 115 meter muncul di ladang terdekat di Windmill Hill. Polanya merupakan sebuah persamaan yang dikembangkan oleh Gaston Julia pada tahun 1918 yang terdiri dari lingkaran-lingkaran yang membentuk tiga fraktal yang berjalin-jalin. 
Pola "Triple Julia" ini memiliki merupakan sebuah pola yang kompleks dalam matematika. Bahkan pada akhir tahun 1980an, komputer yang terbaik pun tidak memiliki kemampuan untuk menampilkannya di layar monitor. Apakah tiga orang itu yang telah mencetak pola tersebut ke sebuah ladang gandum hanya dalam tempo beberapa jam di malam hari? Jika iya, bagaimana mereka melakukannya? 
Setelah 15 tahun berlalu, para ilmuwan masih belum memecahkan misterinya. Bahkan setelah kemunculan lebih dari 10.000 pola yang terdokumentasi selama bertahun-tahun, formasi Crop Circle masih tetap merupakan misteri sains yang besar. 
Para fisikawan yang telah melakukan penelitian serius mengenai teknik yang digunakan oleh seniman crop circle telah mendapatkan berbagai hal yang luar biasa, termasuk beberapa hal yang membawa kepada aplikasi praktis seperti teknik untuk mengakselerasi pertumbuhan gandum. Dengan adanya pengumuman kalau perubahan iklim telah menekan pertumbuhan gandum hingga 3%, perkembangan ini menawarkan sebuah potensi besar bagi masyarakat. 
Namun bagaimanapun juga, tetap saja penelitian crop circle tidak ditujukan untuk mereka yang lemah hatinya karena para fisikawan yang terjun ke dunia ini harus berhadapan dengan manipulasi media, email-email yang penuh cemooh, penganut teori konspirasi, teori mengenai koloborasi dengan alien dan omong kosong New Age, belum lagi risiko akan dipandang sebagai "ilmuwan yang kurang serius" oleh para kolega mereka. 
Spekulasi mengenai asal muasal crop circle telah berkembang sejak mereka pertama kali dilaporkan di Inggris tahun 1600an. Mulai dari landak yang berguling-guling, ternak yang buang air kecil, pasangan yang menari gembira hingga tindakan dari "mowing Devil". Pada tahun 1678, sebuah seri lingkaran yang muncul di Hartfordshire dianggap sebagai perbuatan iblis karena teknik pembuatannya sepertinya melampau kemampuan manusia. Menurut sebuah laporan dari News Out of Hartfordshire pada tahun 1678, "Iblis menaruh setiap jerami dengan akurasi tinggi dalam satu malam yang jika dilakukan oleh manusia akan makan waktu berabad-abad”
Laporan tersebut juga menampilkan sebuah cetakan ukiran kayu yang mengindikasikan kalau batang-batang gandum di dalam lingkaran tersebut rata, tidak patah - sebuah karakteristik crop circle yang terus berlanjut hingga sekarang. 
Penjelasan sains pertama mengenai crop circle berfokus pada angin siklon. Pada tahun 1686, ilmuwan Inggris, Robert Plot, mendiskusikan formasi crop circle dalam hubungannya dengan aliran udara dari langit. Mirip dengan hal itu, pengamatan terhadap langit malam yang dilakukan oleh ilmuwan lain, John Capron, pada tahun 1880 menunjukkan adanya "auroral beam" yang disebabkan oleh angin di atas "titik lingkaran" dari sebuah formasi ladang gandum yang miring rata dengan tanah (Nature 22 290). 
Ketika fenomena ini mendapatkan momentumnya, muncul formasi dengan pola baru, yaitu pola dengan banyak lingkaran. Kebanyakan pengamat menyimpulkan kalau formasi-formasi ini mengandung simbol-simbol matematika yang sangat akurat sehingga pastilah merupakan pekerjaan dari makhluk yang sangat cerdas. Sementara abad 20 berlalu, kesimpulan ini telah memicu sebuah perdebatan hangat mengenai alien versus manusia dimana UFOlog melihat ke angkasa luar untuk menemukan pencipta crop circle sementara "cereologist" (mereka yang meneliti crop circle) berkonsentrasi untuk menemukan para hoaxer. 
Perdebatan ini dibuat rumit oleh fakta bahwa para pencipta (siapapun mereka) formasi ini jelas merupakan seorang ahli sains. Contohnya adalah satu formasi yang muncul di dekat Chibolton Observatory di Hampshire yang sepertinya merupakan jawaban atas sinyal "Search for Extraterestrial Intelligence" yang dipancarkan ke angkasa 30 tahun sebelumnya. 
Sementara perdebatan terus berlangsung, beberapa ilmuwan terus mencoba untuk mencari penjelasan alamiah alternatif. Salah satu yang paling berpengaruh adalah Terence Meaden, seorang meteorolog dan fisikawan di Dalhousie University, Kanada. Pada tahun 1980 ia meneguhkan teori Capron dengan mengajukan teori bahwa karakter geografis selatan Inggris yang miring telah mempengaruhi aliran udara lokal yang kemudian menyebabkan sebuah angin puyuh menstabilkan diri cukup lama untuk membuat sebuah lingkaran di ladang gandum. 
Penjelasan Meaden yang ilmiah itu kemudian mendapatkan pukulan berat pada tahun 1991 ketika dua pria berusia 60an tahun menyatakan kalau mereka telah membuat crop circle selama lebih dari 25 tahun. Pernyataan ini disambut dengan gembira oleh media-media Inggris. Hobi mereka dimulai pada suatu malam pertengahan tahun 1970an ketika seniman Douglas Bower menceritakan sebuah kisah kepada temannya, David Chorley, mengenai seorang petani Australia yang melaporkan melihat sebuah UFO terbang ke langit dan meninggalkan jejak lingkaran "saucer nest". Ketika Bower dan Chorley meninggalkan pub untuk pulang ke rumah, mereka melewati pinggiran desa dan kemudian menciptakan formasi pertama mereka. 
Dalam proses keisengan tersebut, kedua orang tersebut tanpa sengaja telah memicu duel 15 tahun antara seni dan fisika. Bower dan Chorley sebenarnya mencoba untuk memulai Hoax UFO. Namun ketika teori Meaden mengenai crop circle mulai mendapat perhatian, mereka meningkatkan jumlah crop circle, berharap untuk menunjukkan kalau formasi-formasi tersebut tidak berhubungan dengan cuaca. 
Meaden, di sisi lain, terbukti sebagai lawan yang kreatif. Sementara Bower dan Chorley mengungkapkan keisengan mereka kepada dunia, Meaden telah berpindah teori dari sekedar pola akibat cuaca ke electromagneto-hydrodinamic Plasma Vortex yang menjelaskan bukan hanya pola-pola multi lingkaran yang kompleks, namun juga fenomena batere traktor yang mati dan cahaya-cahaya aneh yang muncul saat terbentuknya crop circle. 
Hari ini, jika melihat ke belakang, penjelasan seperti itu terdengar seperti dibuat-buat. Namun pada puncak perdebatan, bahkan Stephen Hawking siap untuk menerima sebagian dari teori Meaden. Ketika gelombang crop circle muncul di pinggir kota dekat rumahnya di Cambridge di tahun 1991, Hawking mengatakan kepada koran lokal bahwa "crop circle pastilah merupakan hoax atau dibentuk oleh pergerakan vortex di udara".
Merasa frustasi, Bower dan Chorley kemudian membalas teori tersebut dengan sebuah pola yang di dalamnya terdapat dua lingkaran dan lima segi empat. 
Pada titik ini, bahkan Meaden mengakui kalau desain ini, yang dijuluki Pictograph oleh peneliti, merupakan hasil karya manusia. Walaupun ia tetap berargumen kalau sebuah pola yang sederhana bisa disebabkan oleh fenomena cuaca. Lagipula, setelah Bower dan Chorley mengaku membuat sekitar 250 formasi, masih ada sekitar 1.000 formasi yang belum diketahui asal-usulnya. Namun, adanya tambahan segi empat dalam formasi crop circle bukan hanya membantah teori sebab alamiah pada crop circle. Ia juga menyebabkan titik balik pada 400 tahun sejarah crop circle.  
Menciptakan Pola Matematika
Setelah Bower dan Chorley mengumumkan perbuatan mereka, pictograph yang mereka ciptakan telah menginspirasi seniman crop circle gelombang kedua. Bukannya mereda, crop circle malah berevolusi menjadi sebuah fenomena internasional dengan ratusan pola-pola pictograph rumit yang muncul setiap tahun di seluruh dunia. Walaupun setengah crop circle yang muncul berada di Inggris, formasi-formasi ini juga muncul di Eropa, Amerika, Rusia, Australia, Jepang dan India. 
Menariknya, para seniman yang mengaku telah membuat crop circle di masa lampau tidak mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas karya-karya luar biasa yang muncul belakangan. Hal ini disebabkan oleh banyaknya seniman crop circle yang mengikuti kelaziman yang dimulai oleh para pendahulu mereka: menciptakan pictographnya secara anonymous pada malam hari dan meninggalkan lokasi tanpa adanya jejak yang tertinggal.
Walaupun para seniman itu juga seorang tradisionalis dalam kaitannya dengan hal ini, karya mereka lebih berkembang secara signifikan. Sebabnya, seniman masa kini memiliki akses ke komputer, peralatan GPS dan laser untuk membantu mereka untuk memetakan polanya, dimana Bower harus menciptakan garis-garis lurus dengan pandangan mata yang dibantu oleh kabel yang dikaitkan ke topinya. 
Para ilmuwan yang tertarik dengan matematika crop circle dan bagaimana mereka direncanakan memiliki dua opsi: Mereka dapat mengintai mobil-mobil yang diparkir di pub pedesaan pada larut malam dengan harapan menangkap basah sang seniman yang sedang bekerja, atau mereka dapat menerapkan teknik analisis pola terhadap karya-karya tersebut. Sejarah menunjukkan kalau metode pengintaian terbukti lebih berisiko. 
Usaha untuk menangkap teknik pemetaan dalam sebuah film telah memicu permainan tikus dan kucing antara seniman dan peneliti dimana kerahasiaan sang seniman biasanya berhasil mempermalukan para peneliti. 
Pada tahun 1990 misalnya, seorang peneliti crop circle ternama yang juga seorang insinyur, Colin Andrews, mengkordinasikan sebuah operasi bernama Blackbird dimana wilayah dekat Westbury, Wiltshire, dipasangi kamera pengintai oleh BBC dan dipantau oleh petugas dari departemen pertahanan. Walaupun sudah menyiapkan rencana dengan matang, saat matahari terbit keesokan paginya, sang seniman terbukti berhasil merayap di kegelapan malam, melakukan pekerjaannya dan pergi tanpa terpantau. Pada tahun 1996, para peneliti yang terlalu antusias pun dipermalukan ketika sebuah video klip hoax yang disebut Oliver Castle Crop Circle muncul ke publik. 
Jadi tidak mengherankan jika kebanyakan peneliti akan melupakan pengintaian dan mulai menganalisa pola-pola yang ditinggalkan oleh para seniman yang cerdik tersebut. Penelitian semacam ini pertama kali dipublikasikan pada tahun 1996 di Science News oleh Gerard Hawkins (yang saat itu merupakan astronom di Boston University). Ia memeriksa banyak crop circle yang muncul antara tahun 1978-1988. 25 diantaranya memiliki hanya satu lingkaran, banyak lingkaran dan lingkaran dengan cincin konsentris. Bahkan walaupun memiliki pola primitif seperti itu, Hawkin menemukan sebuah bahasa artistik yang tersembunyi. 
Ia menemukan kalau semua formasi tersebut dibuat dengan menggunakan garis konstruksi yang tersembunyi yang digunakan pada tahap desain, namun tidak muncul pada hasil akhir. Contohnya seperti yang ditunjukkan oleh garis biru pada gambar di bawah ini, sedangkan pola kuning menunjukkan hasil akhir.
Kemudian Hawkin menggunakan garis konstruksi ini untuk mendemonstrasikan bahwa crop circle lebih dari sekedar pola-pola yang berada pada posisi yang random. Garis konstruksi tersebut ternyata memiliki ukuran dan posisi relatif yang membentuk sebuah karakter yang sangat eksotik. Misalnya, rasio dari berbagai diameter dan area diantara desain tersebut ternyata memiliki kemiripan dengan “diatonic ratios” tuts putih pada sebuah piano. Rasio-rasio ini merupakan frekuensi rasio dari not “Middle D” ke C. Contohnya 297/264 Hz = 9/8. 
Gagasan bahwa formasi crop circle memiliki harmoni geometri yang fundamental yang sesuai dengan chord musik akhirnya menginspirasi beberapa musisi untuk menggunakan algoritma komputer untuk mengubah formasi tersebut menjadi melodi. Dan “penerjemah” yang paling ternama adalah Paul Vigay. Contoh musiknya bisa didengar di http://bit.ly/lbUJQq
Jadi, desain crop circle saat ini semakin kompleks, meliputi lebih dari 2.000 bentuk individual yang disusun menggunakan garis-garis konstruksi yang tidak terlihat oleh pengamat biasa. Peningkatan kemampuan komputer juga berarti kalau persamaan matematis yang sama dan berulang-ulang sekarang dipakai untuk menghasilkan bentuk fraktal seperti Desain Triple Julia yang muncul kembali di Swiss tahun 2010 lalu. Bentuk fraktal lain yang juga ternama adalah Mandelbrot set, Julia Set dan Koch Snowflake yang muncul secara teratur sejak tahun 1991.  
 Koch Snowflake
 Mandelbrot
Membuat Crop Circle Bahkan tahap awal konstruksi crop circle merupakan sebuah pekerjaan yang sulit. Kemunculan formasi triple Julia yang pertama pada Juli 1995 didahului oleh Single Julia beberapa minggu sebelumnya. 
Single Julia

Untuk mengukur desain “pemanasan” ini, sebuah tim yang terdiri dari 11 orang membutuhkan waktu selama 5 jam dan sebuah perusahaan penilai memperkirakan paling sedikit akan dibutuhkan waktu selama 5 hari untuk memetakan setiap bagian dari pola tiga lingkaran yang berjalin. Tetapi setelah pemetaan itu selesai, seniman-seniman crop circle masih harus menghadapi persoalan yang rumit: Jika membuat pola-pola tersebut di atas kertas saja sudah merupakan sebuah pekerjaan yang sulit, bagaimana caranya mencetak pola-pola tersebut di sebuah ladang? 
Para pembuat crop circle tradisional menggunakan “stompers” (Bilah papan yang dikaitkan dengan dua tali), benang dan penggiling kebun plus bangku untuk membantu seniman tidak merusak gandum. Walaupun penampilannya yang kuno, stompers terbukti alat yang sangat efektif untuk meratakan gandum jika digunakan oleh tangan yang berpengalaman. Namun, desain yang modern telah berevolusi melampaui kebutuhan tradisional. Pola-polanya sekarang dibentuk sehingga menghasilkan tekstur geometri yang rumit. Contohnya batang gandum di dalam setiap lingkaran pola Triple Julia ternyata membentuk spiral. Lapisan-lapisan dari batang gandum yang merunduk ternyata juga dapat dijalin, menciptakan tekstur berbayang yang dapat berubah jika terkena sinar matahari karena respon phototopic batang gandum. 
Dengan demikian, untuk mencetak pictograph berukuran besar sebelum matahari terbit, seniman-seniman masa kini harus bekerja dalam sebuah tim yang terkoordinasi dengan baik. Salah satu tim yang ternama adalah Circlemakers, dan ketika mereka mengijinkan para kru BBC merekam kegiatan mereka membuat crop circle yang terdiri dari 100 lingkaran roulette di tahun 1998, tim tersebut dapat membuat satu lingkaran setiap menit. Salah seorang anggotanya, Will Russel meringkas motivasi mereka, yaitu untuk “Mendorong batasan dalam pikiran orang-orang mengenai kemampuan manusia.” Rekan Russel, Rod Dickinson menekankan kalau pada kecepatan ini, mereka bisa membuat pola Triple Julia dalam satu malam. 
Walaupun adanya klaim seperti itu, ukuran Triple Julia yang besar dan akurat tentu saja akan jauh lebih menantang dibanding roulette milik circlemakers. Ada tanda-tanda lebih lanjut kalau pembuatan dengan metode tradisional telah mencapai batasan maksimalnya. Satu pictograph yang muncul tahun 2009 saja membutuhkan waktu 3 malam untuk menyelesaikannya. Polanya terlihat di gambar di bawah ini. 
Jika para seniman ingin mempertahankan kerahasiaan gerakan ini, jelas mereka akan membutuhkan metode konstruksi yang lebih efisien. 
Spekulasi Biofisika Menariknya, beberapa eksperimen yang dilakukan oleh para ahli biofisika menemukan kemungkinan kalau para seniman crop circle mungkin memang telah mengubah metode mereka. 
Studi-studi independen yang diterbitkan tahun 1999 dan 2011 menunjukkan bukti adanya ekspose radiasi terhadap gandum. Pola-pola yang dipelajari adalah pola-pola yang muncul pada pertengahan tahun 1990an dan termasuk di dalamnya Triple Julia. Gambar di bawah ini menunjukkan hasil penelitian terhadap “Pulvini”, sambungan elastis yang muncul di batang gandum. 
Eltjo Haselhoff, seorang ahli fisika dan medis, menemukan kalau Pulvini pada batang gandum melengkung. Ini berbeda dengan kondisi batang gandum normal di luar crop circle. 
Walaupun beberapa faktor memang dapat menyebabkan Pulvini melengkung, seperti Gravitropism (Arah rundukan batang gandum karena gravitasi) dan Lodging (Rundukan batang gandum karena angin dan hujan), Haselhoff menolak keduanya sebagai penyebab karena rundukan yang simetris dari tengah lingkaran ke tepinya. 
Penemuan Haselhoff ini meneguhkan hasil penelitian William levengood, seorang ahli biofisika dari perusahaan konsultan pertanian, Pinelandia Biophysics Laboratory di Michigan. Levengood juga menemukan hasil yang serupa pada 95% dari 250 formasi crop circle di tujuh negara. Ia mengajukan teori kalau Pulvini yang melengkung itu diakibatkan oleh panas dari radiasi elektromagnet. Radiasi semacam itu dapat menyebabkan batang gandum jatuh dan mendingin di posisi sejajar dengan tanah. Ia juga menemukan bukti lain yang mendukung teori panas ini, yaitu perubahan pada struktur selular gandum dan banyaknya lalat mati yang terjepit di benih gandum. 
Levengood dan Haselhoff kemudian menindaklanjuti pekerjaan mereka dengan memindahkan benih gandum dari ladang dan menempatkannya di ruangan khusus yang memiliki tata cahaya, kelembaban dan temperatur yang dijaga. Mereka menemukan kalau benih yang diambil dari luar crop circle bertumbuh pada level normal, sedangkan benih dari dalam crop circle bertumbuh empat kali lebih lambat. Walaupun hasil penelitian keduanya dipublikasikan di Physiologia Plantarum, sebuah jurnal peer review yang didedikasikan untuk sains pertumbuhan tanaman, penemuan mereka gagal memulai perdebatan mengenai crop circle. 
Spekulasi keduanya juga tidak membantu sama sekali. Levengood menafsirkan hasil penelitiannya sebagai bukti teori plasma Vortex Meaden. Sedangkan Haselhoff mengajukan spekulasi bahwa sumber radiasi tersebut adalah bola-bola cahaya misterius yang sering terlihat melayang di atas crop circle. Melihat situasi tersebut, para peneliti ragu untuk mengeksplorasi lebih lanjut penemuan kontroversial itu dan penelitian Levengood dan Haselhoff tidak pernah diteguhkan ataupun ditolak oleh studi-studi berikutnya. 
Sebagai konsekuensi, penelitian mereka akhirnya hanya terus memicu perdebatan lama mengenai hoaxer manusia, efek atmosfer dan tentu saja seniman ekstra terestrial. 
Juni lalu, saya memasuki perdebatan tersebut dengan menulis di Nature bahwa seniman ekstra terestrial tidak akan perlu membengkokkan hukum apapun, namun mereka akan membutuhkan kemampuan matematika untuk merancang desain masa kini dan kesadaran saintifik untuk mengeksploitasi kemajuan teknologi. Tulisan saya ini akhirnya malah mendatangkan email-email bernada kebencian dari para UFOlog dan lainnya yang menuduh saya menyebarkan informasi yang salah sebagai bagian dari operasi konspirasi. 
Lalu saya masuk ke website konspirasi untuk melihat siapa yang menjadi partner konspirasi saya dan menemukan kalau kambing hitamnya adalah pemerintah Inggris, Jerman dan US Secret Service. 
Walaupun alien dan konspirasi pemerintah tidak dapat diabaikan dengan kepastian 100%, Occam’s Razor (yang menyatakan kalau penjelasan yang melibatkan asumsi paling sedikit adalah yang paling mungkin benar) mendukung skenario seniman manusia. Mungkinkah beberapa seniman telah menerapkan teknik fisika tersebut dengan gelombang micro? 
Menariknya, sebuah kelompok peneliti crop circle bernama BLT Research mengklaim mampu mereplika perubahan yang terjadi pada Pulvini dengan cara mengeksposenya dengan gelombang mikro yang dihasilkan dari magnetron yang diambil dari oven microwave. Magnetron masa kini sangat kecil dan ringan dan hanya membutuhkan 12 volt batere.
Haselhoff dan Levengood menggunakan prinsip Beer-Lambert yang menghubungkan antara penyerapan radiasi dengan fitur materi untuk membuat model lengkungan Pulvini. Untuk sebuah crop circle berukuran 9 meter, Model Haselhoff  mengindikasikan kalau sumber radiasi harus diletakkan 4 meter diatas titik tengah lingkaran. Setelah dipanaskan dengan sumber ini, batang gandum akan dengan mudah diarahkan sesuai dengan keinginan sehingga mempercepat waktu pembuatan crop circle. 
Walaupun hipotesis menarik ini sesuai dengan fakta yang ada, para ahli biofisika kelihatannya masih perlu untuk memperluas eksperimen awal ini jika ingin argumennya diterima. 
Masih mencari solusi Menentukan teknologi di balik pembuatan crop circle jelas memiliki implikasi yang melampaui sekedar rasa ingin tahu atau apresiasi seni.
Jejak-jejak beberapa pola (formasi hantu) masih dapat terlihat pada ladang-ladang di masa sekarang. Ini sesuai dengan pengamatan Levengood kalau crop circle memiliki dampak terhadap pertumbuhan gandum. Crop circle akan dipanen setiap tahun dan gandum-gandum yang rusak ini akan memasuki rantai makanan manusia. Menariknya, penelitian Levengood menunjukkan kalau pertumbuhan gandum yang terhambat datang dari crop circle yang muncul lebih awal pada tanaman yang belum berkembang. Namun, ia juga melaporkan jika benih dibuang dari crop circle yang muncul di tanaman dewasa, maka tingkat pertumbuhan malah naik 5 kali lipat. Hal ini membuat Levengood mengembangkan sebuah teknologi Molecular Impulse Response yang dapat mengakselerasi pertumbuhan gandum dengan memberikannya pancaran molekular. 
Seniman Crop circle tidak akan membuka rahasianya dengan mudah.  Para peneliti yang mempelajari pictograph modern harus segera terbang ke udara untuk memotret pola terbaru sebelum hilang ditangan para pemanen. Musim panas ini, seniman tidak dikenal akan berkeliling di pinggiran desa dekat rumah anda sambil membawa perlengkapan mereka, aman karena mengetahui bahwa mereka sedang melanjutkan warisan sebuah pergerakan seni yang paling berorientasi sains di dalam sejarah. Dapatkah kalian menyingkapkan rahasia kesuksesan mereka?